Jauh lebih tinggi dari orang-orang yang selalu
me-maha-kan kami, siswa/siswi yang menjajal perguruan tinggi, saya kini
me-maha-kan Pemilik kehidupan yang memberikan saya cakrawala baru tentang
hidup. Mahasiswa.
***
-Early Warning-
Pos pertama dari seri pos How Much Does Your
Kost Cost ini bermuara pada kegalauan. Secara spesifik dapat
dijabarkan bahwa kegalauan yang dimaksud adalah galau akademik, galau yang
searti dengan dilema, serta galau yang searti dengan rindu. *Bagi yang bukan
remaja labil, dimohon untuk tidak meninggalkan posting inih jika merasa rawan
terinfeksi... Daku remaja labil yang bijaksana kok. (uhuuuk! oekk!) 

***
Kuasaku
Kembali ke leptop. Hidup menjadi anak kost itu
ternyata membuat banyak hal menjadi berbeda. Hal yang membuat hidup anak kost
menjadi sangat berbeda dan cukup menantang bagi saya adalah karena saya kini
memiliki kuasa. Kuasa untuk memilih. Yang mana dan apa yang selanjutnya?
Haruskah saya melakukannya? Siapa yang mendapatkan keuntungannya? Tentang
jadwal kuliah, tentang tugas, tentang makan, tentang shalat, tentang kumpul,
tentang hati. Kesemuanya memiliki skala prioritas yang akan menggiring
kita ke satu jalan.
Hidup adalah pilihan
.
Seringkali jiwa saya kerdil untuk menolak apa yang
seharusnya tidak saya lakukan. Sejak tidak tinggal di rumah, saya makin bingung
dengan kehidupan-tanpa-suruhan. Saat menjadi orang tua, untuk membuat keputusan
bagi orang lain, mungkin akan lebih sulit lagi. Huh, terima kasih untuk bapak
dan ibu yang sejak saya kecil dengan bijaksana membuat keputusan-keputusan
hingga akhirnya saya sampai di titik ini. Hingga akhirnya saya sampai di titik
di mana saya bisa belajar untuk berkeputusan atas diri saya sendiri. Ini berat,
menolak diri sendiri itu sangat berat. *Galau pokoknya.
Saya semakin mengerti dan menghargai bapak yang sejak
bayi hidup meyatim dan saat sekolah menengah hidup piatu. Pasti banyak
keputusan-keputusan yang waktu itu harus dibuat olehnya sendiri. Meskipun saat
ini segalanya makin mudah dengan teknologi, nelpon murah, tapi tetap saja, menjadi anak kost dan hidup dengan
kuasa sendiri adalah yang paling menantang. *Nikah cepet ae piye, jal? #Hash.
*Galau pokoknya.
Tak berjarak
Selain karena faktor usia *liat KTP* kata ibu, ini
juga masalah jarak. Tapi saya selalu berusaha meyakini beliau bahwa kami tidak
berjarak. Terima kasih Alexander Graham Bell dan penerus perjuangannya atas
usahanya untuk dunia sehingga saya bisa nilpon (dengan harga yang bahkan bisa
melipatgandakan pulsa kita) *haha* semudah
membalikkan tangan (dan mijit-mijit tombol lalu nempelin tilipun ke telinga).
Apa yang diajarkan bahkan dalam ilmu Sosiologi yang saya pelajari (sewaktu
masih imut) di bangku SMA menyatakan tentang fungsi pengawasan,
bukan fungsi jarak. Inilah maksudnya, bahwa dengan teknologi--kita selalu bisa
diawasi. Saya sendiri ingin memastikan bahwa saya selalu diawasi dan dapat di-track oleh
keluarga. Biasanya, sepuluh menit sebelum tidur saya membuat pos di blog
rahasia yang hanya dapat dibaca oleh bapak, ibu dan mas-mas di Bandung.
Tentang semua hal. Detail. Saya hanya tidak ingin
membuat ibu saya merasa kehilangan anak perempuannya dengan tidak pernah
mendapatkan cerita mengenai bagaimana saya bertumbuh, berpikir, dan bersikap.
Jika ada "apa-apa" pun, saya ingin mereka untuk menjadi orang yang
tahu segalanya. Who knows what will happen in the future.
Nulisnya bikin kangen ik... Kemarin baru video-call...
Untungnya, semua urusan komunikasi sangat mudah dan
murah. Ambil HP dan *100# atau sat-set dengan paket *100*200#, mendengar suara
ibu yang jernih di ujung hubungan, menjadi oase di Semarang yang hareudang ini.
(Biasanya daku makek paketan dari As) Pun, isi pulsa As itu kan tinggal pegang token.
Mihihi.. BonbAStis dengan kemudahannya.. *si Sule aneh banget di iklan ini. Ga
tau, pengen ngakak pokoknya.
***
Menjadi anak kost -meskipun baru dua minggu- sudah
banyak membuat saya belajar tentang banyak hal--termasuk tentang betapa
sombongnya rasa ingin bebas (sebelum keluar rumah) dan kuasa-untuk-memutuskan
di tengah semangat belajar dan bekerja yang menggebu-gebu, di tempat yang jauh
dari pengawasan, dengan hati yang ingin selalu dekat. *Tapi, untuk setiap
pengorbanan yang telah saya perjuangkan, saya harus membuat masa-masa ini
menjadi jauh dan begitu berarti dan bernilai tinggi. Sehingga saya mendapatan
profit yang sebesar-besarnya #ekonbanget.


