Senin, September 19, 2011

How Much Does Your Kost Cost? (1): Tentang Kuasaku dan Jarak Kita


Jauh lebih tinggi dari orang-orang yang selalu me-maha-kan kami, siswa/siswi yang menjajal perguruan tinggi, saya kini me-maha-kan Pemilik kehidupan yang memberikan saya cakrawala baru tentang hidup. Mahasiswa.

***

-Early Warning-

Pos pertama dari seri pos How Much Does Your Kost Cost ini bermuara pada kegalauan. Secara spesifik dapat dijabarkan bahwa kegalauan yang dimaksud adalah galau akademik, galau yang searti dengan dilema, serta galau yang searti dengan rindu. *Bagi yang bukan remaja labil, dimohon untuk tidak meninggalkan posting inih jika merasa rawan terinfeksi... Daku remaja labil yang bijaksana kok. (uhuuuk! oekk!) 

***

Kuasaku
Kembali ke leptop. Hidup menjadi anak kost itu ternyata membuat banyak hal menjadi berbeda. Hal yang membuat hidup anak kost menjadi sangat berbeda dan cukup menantang bagi saya adalah karena saya kini memiliki kuasa. Kuasa untuk memilih. Yang mana dan apa yang selanjutnya? Haruskah saya melakukannya? Siapa yang mendapatkan keuntungannya? Tentang jadwal kuliah, tentang tugas, tentang makan, tentang shalat, tentang kumpul, tentang hati. Kesemuanya memiliki skala prioritas yang akan menggiring kita ke satu jalan.

Hidup adalah pilihan
.

Seringkali jiwa saya kerdil untuk menolak apa yang seharusnya tidak saya lakukan. Sejak tidak tinggal di rumah, saya makin bingung dengan kehidupan-tanpa-suruhan. Saat menjadi orang tua, untuk membuat keputusan bagi orang lain, mungkin akan lebih sulit lagi. Huh, terima kasih untuk bapak dan ibu yang sejak saya kecil dengan bijaksana membuat keputusan-keputusan hingga akhirnya saya sampai di titik ini. Hingga akhirnya saya sampai di titik di mana saya bisa belajar untuk berkeputusan atas diri saya sendiri. Ini berat, menolak diri sendiri itu sangat berat. *Galau pokoknya.

Saya semakin mengerti dan menghargai bapak yang sejak bayi hidup meyatim dan saat sekolah menengah hidup piatu. Pasti banyak keputusan-keputusan yang waktu itu harus dibuat olehnya sendiri. Meskipun saat ini segalanya makin mudah dengan teknologinelpon murah, tapi tetap saja, menjadi anak kost dan hidup dengan kuasa sendiri adalah yang paling menantang. *Nikah cepet ae piye, jal? #Hash. *Galau pokoknya.

Tak berjarak
Selain karena faktor usia *liat KTP* kata ibu, ini juga masalah jarak. Tapi saya selalu berusaha meyakini beliau bahwa kami tidak berjarak. Terima kasih Alexander Graham Bell dan penerus perjuangannya atas usahanya untuk dunia sehingga saya bisa nilpon (dengan harga yang bahkan bisa melipatgandakan pulsa kita) *haha* semudah membalikkan tangan (dan mijit-mijit tombol lalu nempelin tilipun ke telinga). Apa yang diajarkan bahkan dalam ilmu Sosiologi yang saya pelajari (sewaktu masih imut) di bangku SMA menyatakan tentang fungsi pengawasan, bukan fungsi jarak. Inilah maksudnya, bahwa dengan teknologi--kita selalu bisa diawasi. Saya sendiri ingin memastikan bahwa saya selalu diawasi dan dapat di-track oleh keluarga. Biasanya, sepuluh menit sebelum tidur saya membuat pos di blog rahasia yang hanya dapat dibaca oleh bapak, ibu dan mas-mas di Bandung. 




Tentang semua hal. Detail. Saya hanya tidak ingin membuat ibu saya merasa kehilangan anak perempuannya dengan tidak pernah mendapatkan cerita mengenai bagaimana saya bertumbuh, berpikir, dan bersikap. Jika ada "apa-apa" pun, saya ingin mereka untuk menjadi orang yang tahu segalanya.  Who knows what will happen in the future.


Nulisnya bikin kangen ik... Kemarin baru video-call...

Untungnya, semua urusan komunikasi sangat mudah dan murah. Ambil HP dan *100# atau sat-set dengan paket *100*200#, mendengar suara ibu yang jernih di ujung hubungan, menjadi oase di Semarang yang hareudang ini. (Biasanya daku makek paketan dari As) Pun, isi pulsa As itu kan tinggal pegang token. Mihihi.. BonbAStis dengan kemudahannya.. *si Sule aneh banget di iklan ini. Ga tau, pengen ngakak pokoknya. 



***

Menjadi anak kost -meskipun baru dua minggu- sudah banyak membuat saya belajar tentang banyak hal--termasuk tentang betapa sombongnya rasa ingin bebas (sebelum keluar rumah) dan kuasa-untuk-memutuskan di tengah semangat belajar dan bekerja yang menggebu-gebu, di tempat yang jauh dari pengawasan, dengan hati yang ingin selalu dekat. *Tapi, untuk setiap pengorbanan yang telah saya perjuangkan, saya harus membuat masa-masa ini menjadi jauh dan begitu berarti dan bernilai tinggi. Sehingga saya mendapatan profit yang sebesar-besarnya #ekonbanget. 

Kamis, September 15, 2011

Selamat ulang tahun yang ketiga, blog! (。◕‿◕。) @nengratna
Selamat, tahun ini sudah mendotkomkan diri
Selamat, tahun ini postingnya sudah wangi tujuh-belasan
Selamat, tahun ini postingnya ala siswa yang maha
Selamat, tahun ini postingnya boleh bermodus